Sebuah Resensi Buku: Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya karya Rida K. Liamsi

Sebuah Resensi Buku: Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya karya Rida K. Liamsi
Irvan Nasir dan Rida K Liamsi

Kesimpulan: Menyeimbangkan, Bukan Memecah Belah

Membaca buku Rida K. Liamsi ini dengan kacamata sempit bisa jadi akan memicu kesalahpahaman sosiologis, seolah-olah buku ini ditulis untuk membangkitkan kembali sentimen etnis lama antara Melayu versus Bugis. Namun, bagi pembaca yang kritis, buku ini justru membawa misi perdamaian yang jauh lebih matang.

Fungsi utama dari kontra-narasi ini adalah untuk menyeimbangkan timbangan sejarah yang terlanjur berat sebelah. Rida ingin mengingatkan kita bahwa persatuan besar Riau-Johor-Pahang-Lingga pada masa lalu bukanlah hasil dari kepatuhan buta yang pasif dari satu pihak, melainkan buah dari negosiasi politik yang keras, dinamis, berdarah-darah, dan kompromi yang saling menghormati batas harga diri masing-masing puak.

Buku Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin melihat sejarah Nusantara secara jujur dan multidimensional. Buku ini membuktikan bahwa sejarah tidak pernah tunggal, dan keris yang dicabut oleh Tun Dalam berabad-abad lalu, hari ini berhasil meretakkan absolutisme teks sejarah yang timpang. 

"Kesalahan terbesar para sejarawan adalah membiarkan sejarah yang salah. Namun, kebodohan terbesar seorang peminat sejarah adalah membiarkan remah-remah sejarah!". Begitu ungkap Rida K. Liamsi di dalam Catatan Penulis di buku itu. (*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index