Oleh: Prof Ahmad Fadli
Dekan Fakultas Teknik Universitas Riau
DALAM setiap upacara yang khidmat, sebuah kalimat sakti hampir selalu menggema dari podium, Universitas Riau (Unri) adalah jantung hati masyarakat Riau.
Namun seiring berlalunya waktu, kalimat itu kian sering terdengar seperti bait puisi yang kehilangan rima; satu jargon seremonial yang manis di telinga, namun getir dalam realitas sosiologis.
Sebagai akademisi yang meniti karier lebih dari tiga dekade, saya melihat Unri kini berada di persimpangan jalan sejarah yang menentukan.
Status Badan Layanan Umum (BLU) yang disandang Unri sejatinya adalah instrumen otonomi untuk bergerak lebih lincah.
Namun, di tengah hamparan kekayaan sumber daya alam Riau yang melimpah, jantung ini tampak sedang mengalami gejala aritmia akademik, satu gangguan irama di mana detak inovasi kampus tidak lagi seirama dengan kebutuhan mendesak rakyat di akar rumput.
Anatomi Penyumbatan Arteri
Logika biologi mengajarkan kita bahwa fungsi utama jantung adalah memompa darah segar berisi oksigen ke seluruh pelosok tubuh.
Jika Riau hari ini masih didera kemiskinan ekstrem di balik megahnya pagar perkebunan sawit, jika tata kelola lahan gambut kita masih menjadi langganan bencana karhutla.
Dan jika serapan tenaga kerja lokal masih kalah bersaing di industri migas raksasa, maka ada yang salah dengan distribusi ‘oksigen pengetahuan’ dari kampus ini.
Kita menghadapi tiga sumbatan arteri yang serius. Pertama, terjadinya jurang pemisah (disconnect) yang lebar antara meja riset dengan realitas lapangan.
Banyak penelitian dosen yang mumpuni secara metodologis dan bertengger di jurnal internasional bereputasi, namun gagal menjawab mengapa harga komoditas rakyat berfluktuasi atau bagaimana memitigasi dampak lingkungan secara permanen.
Riset kita sering kali menjadi ‘benda mati’ di rak perpustakaan, alih-alih menjadi ‘solusi hidup’ bagi petani.
Kedua, dilema finansial pasca-status BLU. Kemandirian finansial adalah mandat, namun komersialisasi aset kampus yang belum optimal menyebabkan Unri masih sangat bergantung pada Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Hal ini menciptakan tekanan psikologis bagi mahasiswa dan orang tua; sebuah ironi di mana kampus ingin menjadi ‘jantung hati’ namun justru dirasakan sebagai beban ekonomi oleh sebagian masyarakat.
Ketiga, birokrasi yang gemuk dan lamban. Inovasi hilirisasi riset sering kali layu sebelum berkembang karena terbentur kerumitan administratif.
Di era di mana perubahan terjadi dalam hitungan detik, birokrasi yang kaku adalah ‘kolesterol’ yang menghambat aliran kreativitas akademis. Jika tidak segera dilakukan pembedahan struktural, Unri berisiko menjadi ‘Menara Gading’ yang megah dalam statistik, namun asing dan tak terjangkau di tanahnya sendiri.
Navigasi Sosio-Ekonomi
Untuk mengimplementasikan tagline tersebut secara konkret, Unri harus bertransformasi dari sekadar pusat pengajaran (teaching university) menjadi pusat navigasi sosio-ekonomi regional.
Secara akademik, ‘jantung hati masyarakat’ harus didefinisikan ulang sebagai: Pusat navigasi inovasi lingkungan berbasis kearifan lokal yang dampaknya harus terasa hingga ke dompet dan dapur rakyat Riau.
Ini bukan sekadar perubahan diksi, melainkan perubahan paradigma. Unri harus menjadi otak yang merancang strategi hilirisasi sawit rakyat, menjadi paru-paru yang menjaga napas ekosistem gambut, dan menjadi tangan yang melatih pemuda Riau agar berdaulat di industri besar.
Untuk memulihkan irama jantung ini, ada tiga langkah taktis yang harus segera diinternalisasi dalam kebijakan universitas.
Pertama, Reorientasi KPI (Key Performance Indicator) Berbasis Dampak. Penilaian kinerja dosen tidak boleh lagi hanya terpaku pada kuantitas publikasi.
Kita harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya, baik secara finansial maupun jenjang karier, bagi akademisi yang risetnya diadopsi oleh pemerintah daerah untuk kebijakan publik atau digunakan oleh UMKM lokal untuk meningkatkan nilai tambah produk.
Keberhasilan akademisi harus diukur dari seberapa besar masalah rakyat yang terselesaikan lewat pemikirannya.
Kedua, aktivasi laboratorium lapangan terpadu. Unri harus keluar dari batas-batas pagar kampus di Panam, Gobah atau Rumbai.
Kampus perlu membangun pusat-pusat studi permanen di titik krusial, di desa-desa pesisir yang terancam abrasi atau desa-desa gambut. Seperti menghidupkan kembali kampus Purnama Dumai.
Mahasiswa KKN tidak boleh lagi sekadar mengecat gapura atau membuat plang jalan; mereka harus menjadi ‘dokter inovasi’ yang membawa solusi teknis dari kampus langsung ke lapangan.
Ketiga, Humas Akademik yang proaktif dan popular. Unri harus mampu menerjemahkan bahasa langit akademis menjadi bahasa bumi yang dimengerti publik. Melalui literasi media yang masif, kampus harus rutin mengomunikasikan temuan-temuannya ke masyarakat awam.
Rakyat Riau harus merasa bahwa ketika mereka menghadapi masalah - baik itu hama tanaman, sengketa lahan, hingga masalah hukum- pintu pertama yang mereka ketuk untuk mencari solusi adalah Universitas Riau.
Penutup
Menjadi ‘jantung hati masyarakat Riau’ adalah tanggung jawab sejarah yang berat namun mulia. Jantung yang sehat tidak bekerja untuk dirinya sendiri.
Ia bekerja agar seluruh tubuh tetap berdiri tegak. Saatnya Unri berhenti hanya sekadar ‘ada’ di Riau, dan mulai benar-benar ‘menjadi’ Riau.
Kita butuh lebih dari sekadar pidato di podium wisuda. Kita butuh keberanian untuk membedah diri, membuang lemak birokrasi, dan kembali menyalurkan gairah pengetahuan ke arteri-arteri kehidupan masyarakat Bumi Lancang Kuning.
Hanya dengan cara inilah, Unri akan tetap dicintai, dihormati, dan benar-benar menjadi detak jantung yang memberi kehidupan bagi generasi masa depan. (*)