Sebuah Resensi Buku: Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya karya Rida K. Liamsi

Sebuah Resensi Buku: Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya karya Rida K. Liamsi
Irvan Nasir dan Rida K Liamsi

Tun Dalam: Mengembalikan Marwah Melayu yang “Dihapus”

Salah satu bias terbesar dalam Tuhfat al-Nafis adalah pencitraan faksi Melayu yang cenderung pasif, lemah, atau sekadar menjadi figuran pelengkap yang gemar mengeluh. Di sinilah letak kontribusi terbesar Rida K. Liamsi dalam melakukan dekolonisasi narasi internal sejarah Melayu. Ia mengangkat kembali tokoh Tun Dalam ke permukaan.

Tun Dalam—seorang calon Sultan Trengganu yang juga merupakan menantu Sultan Sulaiman—dihadirkan bukan sebagai sosok fiktif, melainkan sebuah kekuatan penyeimbang politik yang nyata. Bersama faksi Melayu lainnya seperti Bendahara Tun Hassan, Tun Dalam menolak tunduk pada absolutisme Daeng Kamboja.

Judul buku ini, "Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya", merujuk pada sebuah klimaks psikologis yang luar biasa indah. Adegan "mencabut keris" di depan Daeng Kamboja adalah sebuah simbol metaforis yang menegaskan bahwa Wa'ad (perjanjian) memiliki batas etika. Ketika satu pihak bertindak terlalu dominan hingga menginjak-injak harga diri pihak lain, maka elite Melayu pun memiliki taji, strategi, dan keberanian militer untuk melawan. Melalui Tun Dalam, Rida berhasil mengembalikan marwah dan martabat aktor-aktor sejarah Melayu yang selama berabad-abad "ditenggelamkan" oleh dominasi teks Tuhfat al-Nafis.

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index