SEBALIK.COM , PEKANBARU - Alarm kewaspadaan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau mulai berbunyi kencang di awal tahun 2026.
Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau menunjukkan bahwa api telah melalap 122,72 hektare lahan yang tersebar di hampir seluruh penjuru Bumi Lancang Kuning.
Kepala BPBD Damkar Riau, M. Edy Afrizal, mengungkapkan bahwa dari 12 kabupaten/kota yang ada di Riau, 10 daerah di antaranya sudah melaporkan adanya titik api.
Kabupaten Bengkalis saat ini memegang rekor luasan kebakaran tertinggi, disusul oleh Indragiri Hilir dan Pelalawan.
Bengkalis sebanyak 37,51 Ha dan menjadi kabupaten terluas terjadinya karhutla, kemudian Indragiri Hilir sebanyaj 22 Ha, Pelalawan 21 Ha, Kota Dumai 10,50 Ha, Pekanbaru 8,51 Ha.
Wilayah lain seperti Meranti 7,70 Ha, Kampar 7,25 Ha, Siak 5,55 Ha, Kuansing 1,50 Ha, dan Inhu 1,20 Ha.
"Hingga saat ini, kami memantau setidaknya ada 378 hotspot (titik panas) dengan 53 fire spot (titik api) yang benar-benar membara," jelas Edy Afrizal, Rabu (4/2/2026).
Meski api mulai menyebar di 10 daerah, Provinsi Riau ternyata belum menetapkan status Siaga Darurat Karhutla. Hal ini membuat beban penanganan saat ini masih bertumpu sepenuhnya pada kekuatan masing-masing daerah.
"Karena status siaga darurat belum ditetapkan secara provinsi, penanganan masih dilakukan secara mandiri oleh tiap kabupaten/kota. Namun, koordinasi lintas sektor terus kami kunci agar pemadaman berjalan efektif," tambahnya.
Di tengah kepulan asap, personel gabungan dari BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pihak swasta terus berjibaku di lapangan. Mereka melakukan pemadaman darat dan penyekatan lahan agar api tidak semakin meluas ke area gambut yang lebih dalam.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar, mengingat cuaca yang mulai kering dapat memicu api kecil menjadi bencana besar dalam hitungan jam. (Mail Has)