Dua Kapal Nelayan Bagansiapiapi Hilang, Keluarga Cemas Menunggu Kepulangan di Tengah Cuaca Buruk

Dua Kapal Nelayan Bagansiapiapi Hilang, Keluarga Cemas Menunggu Kepulangan di Tengah Cuaca Buruk
Sejak malam, ratusan warga berkumpul di atas pelantar kayu tua yang mulai rapuh, menunggu kabar dari dua kapal yang tidak kembali dari laut

SEBALIK.COM, BAGANSIAPIAPI - Kekhawatiran mendalam menyelimuti kawasan pelabuhan nelayan di Bagansiapiapi. Sejak malam, ratusan warga berkumpul di atas pelantar kayu tua yang mulai rapuh, menunggu kabar dari dua kapal yang tidak kembali dari laut. Di wajah para istri, orang tua, dan anak-anak terlihat kecemasan yang sulit disembunyikan, sementara angin laut terus berembus membawa kegelisahan.

Enam nelayan yang belum kembali masing-masing bernama Iboy, Candra, Ardiansyah, Riki, Ibrahim, dan Ujang. Mereka berangkat dengan dua kapal—satu kapal besar berawak empat orang dan satu kapal kecil berisi dua orang. Warga masih berharap kedua kapal tersebut hanya terseret angin hingga jauh dari jalur utama, bukan mengalami kerusakan atau karam.

Situasi semakin menegangkan setelah beredar kabar bahwa tim Basarnas yang sempat menyisir area pencarian terpaksa kembali ke darat karena angin kencang dan gelombang tinggi.

Di tengah suasana panik, Evi—istri salah satu nelayan yang hilang, Eboy—berusaha tegar meski suaranya beberapa kali bergetar. Ia mengaku merasakan firasat tidak enak sejak sore ketika angin tiba-tiba berubah kencang. Suaminya tetap melaut karena kondisi pagi hari sempat terlihat normal. Namun sejak pukul delapan malam, ponsel sang suami tak lagi aktif.

“Sore semalam angin naik sekitar jam dua. Paginya biasa saja, jadi suami saya tetap melaut,” ucap Evi, Jumat (28/11/2025).

Sementara itu, para nelayan yang masih berada di darat segera membentuk tim pencarian. Ketua HNSI Rokan Hilir, Rivi Candra, mengatakan tiga kelompok pencari telah bergerak ke laut. Satu kabar baik berhasil diperoleh: seorang nelayan bernama Alam ditemukan selamat.

Namun pencarian tetap sulit. Lautan bergelombang tinggi membuat upaya itu seperti menantang badai. Laporan lain juga masuk, salah satunya tentang seorang nelayan bernama Sulai yang terdampar di Pulau Halang setelah kapalnya dihantam ombak.

Kesaksian para nelayan memperjelas bahaya cuaca malam itu. Pak Itam, yang ikut dalam pencarian, menyebut gelombang mencapai sekitar tiga meter di kawasan antara bubu 11 dan bubu Telajur 3, lokasi yang berjarak hanya empat mil dari pantai. Ia sendiri memutuskan kembali lebih awal karena melihat gelombang yang tidak biasa.

Di sisi lain, Basarnas terus mengoordinasikan pencarian meski cuaca ekstrem mengancam keselamatan tim. Doni, anggota Basarnas, mengatakan operasi hari ini dihentikan karena pengaruh Siklon Senyar yang memicu angin kencang dan gelombang tinggi di sekitar Selat Melaka. Kapal Basarnas dari Dumai dan kapal nelayan dari Penipahan yang ikut membantu terpaksa memutar balik.

“Kami akan turun lagi besok. Dari Penipahan juga hilang satu kapal dengan tiga nelayan. Total sementara ada tiga kapal hilang,” ujar Doni.

Ia menambahkan, nelayan yang ditemukan selamat adalah Alam, pengguna sampan kecil dengan jaring senangin. Sementara itu, gelombang di Selat Melaka masih mencapai dua meter dan diperkirakan belum stabil. (*)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index