Oleh: Irvan Nasir
BEGITULAH tabiat politik kita: cepat membara, cepat pula padam. Isu Pilkada dipilih DPRD yang dilempar Bahlil Lahadalia dalam Rakornas Golkar adalah contoh paling mutakhir bagaimana ide dilempar bukan untuk diuji, melainkan untuk ditepuk.
Dengan nada efisiensi dan demi stabilitas, seolah Pilkada langsung adalah sumber segala borok demokrasi, Bahlil berbicara. Dan seperti biasa, gema segera menyusul: PKB, PAN, dan tentu saja Gerindra sebagai the ruling party mengamini. Tanpa catatan kaki. Tanpa reserve.
Rakyat sang pemilik daulat ribut dan protes mereka tak peduli, karena mereka merasa 'pemilik' negeri yang bernama Indonesia. Rakyat bagi mereka cuma sebilangan angka.
Lucunya, Demokrat sempat bersikap “bijak”, tidak ikut-ikutan. Tapi politik kita jarang tahan godaan angin kekuasaan. Tak lama, Demokrat pun balik badan. Mendukung. Mungkin dengan harapan tak ketinggalan kereta. Sayang, keretanya ternyata hanya melintas, tak pernah berhenti.
PKS yang semula tidak mendukung, kemudian canggung dan agak malu-malu. Akhirnya mendukung juga Pilkada lewat DPRD.
Sebab lalu datang pernyataan Sufmi Dasco Ahmad. Tenang, datar, mematikan: Pilkada lewat DPRD tidak masuk Prolegnas. Artinya? Batal sebelum sempat lahir. Wacana itu ternyata hanya kembang api Rakornas, terang sesaat, lalu gelap kembali.
Di titik ini, kita akan menyaksikan pemandangan yang sangat khas: para Ketua partai yang semula galak mendukung, jubir-jubir yang bicara dengan nada absolut, akan berbalik arah seolah tak pernah terjadi apa-apa. Seolah rekaman tak pernah ada. Politik tanpa rasa malu memang sedang menjadi genre utama.
Demokrat berada di posisi paling canggung. Bolak-balik, tak jelas. Bak pepatah Melayu: macam layang-layang putus-tak ke langit, tak ke bumi.
Lebih ironis lagi, para incumbent kepala daerah. Begitu yakin Pilkada akan dipilih DPRD, mereka mulai bersikap oportunis: menjauhi tim sukses lama, memasang wajah manis ke elite Parpol, membuang loyalitas seperti tisu bekas. Sekarang mulai pasang wajah manis lagi kepada masyarakat.
Mulai besok kita akan melihat bagaimana ludah yg sudah disemburkan kemaren akan dijilat lagi, tandas, dengan senyum tanpa malu-malu.
Akhirnya, rakyat hanya bisa menelan rasa mual. Sebab politik, kata mereka, adalah seni mengelola peluang. Tapi di negeri ini, sering kali ia berubah menjadi seni mempermainkan akal sehat. (*)