SEBALIK.COM, PEKANBARU – Musyawarah Daerah (Musda) ke-8 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Syahrial Abdi, di Gedung Dharma Wanita, Selasa (23/12/2025).
Musda yang digelar lima tahunan ini mengusung tema “Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Riau Maju dan Berkelanjutan dalam Lingkungan Budaya Melayu yang Agamis”. Tema tersebut dinilai relevan dengan tantangan zaman serta kebutuhan umat di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.
Dalam sambutannya, Syahrial Abdi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Musda VIII MUI Riau. Ia berharap forum ini dapat menjadi sarana penyatuan visi dan persepsi antara pemerintah daerah dan ulama dalam membangun spiritualitas serta moral masyarakat Riau.
“Kerja sama yang erat antara pemerintah dan ulama sangat penting dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dan menyemarakkan aktivitas keislaman di Riau ke depan,” ujarnya.
Syahrial menegaskan bahwa MUI memiliki peran strategis sebagai penjaga akidah umat, perekat persatuan, sekaligus mitra pemerintah dalam mewujudkan kehidupan beragama yang moderat, rukun, dan berkeadaban. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Riau menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Musda VIII MUI Riau.
Ia juga berharap Musda ini menjadi momentum evaluasi dan konsolidasi organisasi, sekaligus melahirkan rumusan pemikiran dan program yang implementatif untuk memperkuat peran ulama, khususnya dalam pembangunan moral dan akhlak masyarakat.
“Peran ulama sangat menentukan dalam mewujudkan masyarakat Riau yang religius, berkarakter, bermarwah, sejahtera, serta hidup dalam suasana damai dan harmonis,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua MUI Riau, Ilyas Husti, menegaskan bahwa Musda merupakan forum tertinggi MUI di tingkat daerah yang memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai ajang evaluasi dan regenerasi kepemimpinan, tetapi juga sebagai wadah muhasabah dan perumusan arah perjuangan ulama ke depan.
Menurutnya, MUI Riau menjalankan peran penting sebagai khadimul ummah, shadiqul hukumah, dan himayatul ummah, yang menuntut kehadiran aktif MUI dalam memberikan bimbingan keagamaan, fatwa, tausiyah, serta rekomendasi strategis bagi umat.
Ilyas juga menyoroti berbagai tantangan keumatan yang semakin kompleks, mulai dari moderasi beragama, penguatan akidah, disrupsi digital, penyebaran paham menyimpang, hingga degradasi moral generasi muda.
“Musda ke-8 ini diharapkan mampu melahirkan program kerja yang realistis dan kepemimpinan MUI yang amanah, berintegritas, serta kolektif-kolegial,” pungkasnya. (*)