SEBALIK.COM, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan proses pemulihan kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di Riau dapat diselesaikan paling lambat Rabu, 7 Januari 2026. Perbaikan ini dinilai krusial karena gangguan pasokan gas telah berdampak langsung pada operasional tambang minyak di Blok Rokan.
Ketua Posko Satgas Natal dan Tahun Baru (Nataru) ESDM, Erika Retnowati, mengatakan percepatan perbaikan menjadi prioritas utama pemerintah untuk memulihkan layanan energi kepada pelanggan dan menjaga stabilitas produksi nasional.
“Kebocoran pipa gas terjadi pada 2 Januari dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan. Kami berharap pipa tersebut dapat kembali beroperasi pada 7 Januari 2026,” ujar Erika saat penutupan Posko Satgas Nataru di Gedung BPH Migas, Jakarta, Senin (5/1/2026) dikutip dari wartaekonomi.co.id.
Erika menjelaskan, insiden ini menjadi tantangan operasional serius di awal tahun, terutama bagi subholding gas PGN, dalam menjaga keandalan penyaluran gas di wilayah Sumatera bagian utara, termasuk Aceh dan Medan.
Urgensi penyelesaian perbaikan juga ditegaskan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman. Ia menyebut kebocoran pipa TGI berdampak langsung pada operasional pompa-pompa minyak di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
“Ini sedang ditangani dan harus cepat diselesaikan. Besok saya juga akan turun langsung ke lokasi di Indragiri Hilir, karena dampaknya langsung ke produksi minyak nasional,” kata Laode.
Ia menambahkan, pemulihan pipa gas sangat penting untuk menjaga target produksi minyak pemerintah sebesar 610 ribu barel per hari (BOPD) pada akhir tahun 2026.
“Kalau awal tahun ini tidak segera pulih, proyeksi produksi akhir tahun bisa terganggu. Karena itu pipa ini harus segera tersambung kembali,” tegasnya.
Kebocoran terjadi di jalur pipa Grissik–Duri (GD) KP 222, tepatnya di Desa Batu Ampar, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Insiden ini menghambat suplai gas yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik di wilayah operasi PHR.
Tanpa pasokan listrik tersebut, mesin-mesin pompa angguk yang berfungsi mengangkat minyak ke permukaan tidak dapat beroperasi secara optimal.
“TGI menyuplai gas untuk pembangkit listrik di wilayah Rokan. Banyak pompa angguk yang bergantung pada listrik dan gas dari pipa ini. Karena itu, perbaikannya tidak bisa ditunda,” jelas Laode.
Sementara itu, Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, mengonfirmasi bahwa kebocoran terjadi sejak Jumat, 2 Januari 2026, pukul 16.35 WIB. PHR, kata dia, terus berkoordinasi intensif dengan TGI untuk meminimalkan dampak terhadap produksi hingga pipa kembali beroperasi normal.
“Pasokan gas ini sangat vital untuk mendukung operasi PHR, khususnya pembangkit listrik sumur-sumur minyak serta fasilitas operasi dan pembangkit uap di Lapangan Duri,” ujarnya. (*)