Surat Terbuka Seorang Ibu untuk Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru: "Ketika Juara Tak Lagi Berarti"

Surat Terbuka Seorang Ibu untuk Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru:

SEBALIK.COM, PEKANBARU -- Kacaunya pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2026 di Kota Pekanbaru kembali menyisakan kekecewaan. Siti Salmah, orang tua dari Anindita Shassy Kirana Mukhtar, siswa yang meraih Juara 1 Cabang Lomba Menulis Cerita mempertanyakan sikap Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru yang dinilai tidak memperjuangkan hak anaknya.

Katanya, persoalan serupa sebenarnya pernah terjadi tahun lalu. Ia berharap kegagalan akibat masalah administrasi tidak kembali terulang, namun kenyataannya anaknya kembali kehilangan kesempatan setelah persoalan administrasi menjadi kendala.

"Kami sudah berusaha meminta bantuan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru agar anak kami bisa ikut seleksi lanjutan. Tapi sepertinya pintu ditutup. Kami akhirnya pasrah," ujar Siti.

Kekecewaan semakin besar setelah ia mendapat informasi bahwa peserta yang diutus justru berasal dari sekolah lain yang disebut tidak mengikuti kompetisi di tingkat kota.

Menurut Siti, penjelasan pihak Dinas Pendidikan juga belum menjawab persoalan secara jelas. Bahkan, alasan yang disampaikan dinas dinilai bertolak belakang dengan keterangan sekolah yang sebelumnya dihubungi.

"Sampai sekarang tidak ada permintaan maaf kepada kami maupun anak kami," katanya.

Kesedihannya makin bertambah saat dia tahu kalau ada surat Puspresnas Kemendikdasmen RI terkait perubahan nama peserta untuk mengikuti Penilaian Babak Penyisihan Cabang Lomba Menulis Cerita FLS3N Tingkat SD/MI/Sederajat Tahun 2026.

Siti pun mempertanyakan mengapa ketika SK Puspresnas belum diterbitkan, anaknya tidak dibantu untuk memperjuangkan haknya. Namun setelah SK terbit dan muncul polemik, Dinas Pendidikan justru masih dapat menyurati panitia nasional untuk meminta perubahan nama peserta dan itu bisa dilakukan.

"Kenapa waktu itu anak saya tidak dibantu, padahal SK dari Puspresnas belum dikeluarkan? Kenapa setelah SK keluar dan menimbulkan polemik, masih bisa meminta perubahan nama? Ini sungguh tidak adil bagi kami, terutama bagi anak kami," ujarnya sambil menahan tangis.

Siti berharap Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru memberikan penjelasan terbuka dan bertanggung jawab atas persoalan tersebut agar kejadian serupa tidak kembali menimpa siswa berprestasi lainnya.

Berikut adalah suara hati Siti Salmah yang dia tuangkan dalam sebuah tulisan di media sosial yang telah dia izinkan media ini untuk mengutipnya.

SURAT TERBUKA SEORANG IBU UNTUK DINAS PENDIDIKAN KOTA PEKANBARU

Sudah lama saya menahan diri, memeluk luka anak kami Anindita Shassy Kirana Mukhtar.

Juara 1 Menulis Cerita FLS3N Jenjang SD Kota Pekanbaru 2026. Yang hanya hadir menggoreskan luka kedua kalinya pada lomba yang sama.

Seorang anak yang berlatih. Bukan satu atau dua kali. Ia berproses selayaknya seorang anak yang benar-benar ingin berjuang.

Ia menulis.
Ia membaca.
Ia memperbaiki tulisannya.
Ia belajar dari kesalahan.

Bahkan ada malam-malam ketika ia masih berlatih sampai pukul tiga dini hari. Di usia anak-anak, ketika seharusnya ia tidur dan bermain, ia memilih berjuang mengejar mimpinya.

Dan perjuangan itu berbuah. Ia menjadi Juara 1.

Lalu setelah semua itu, apa yang diterimanya?

Bukan kesempatan untuk melanjutkan perjuangan. Melainkan LUKA.

Hari ini, piala yang seharusnya menjadi kenangan indah justru menjadi bagian dari trauma.

Dan ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya.

“Untuk apa aku menulis lagi?”

Pertanyaannya kami kepada para pengambil kebijakan.

Pernahkah terpikir tentang trauma anak kami?

Bukan trauma orang dewasa.
Bukan ego orang tua.

Tetapi trauma seorang anak yang sudah memberikan seluruh kemampuannya, lalu harus menerima kenyataan bahwa perjuangannya berhenti bukan karena ia kalah.

Pernahkah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru berkeinginan duduk bersama kami?

Berdiskusi. Mendengarkan. Melihat persoalan ini dari sudut pandang seorang anak. Bukan hanya melihatnya sebagai nama dalam sistem administrasi.

Jika sejak awal anak kami dianggap tidak dapat mengikuti proses tersebut karena persoalan administrasi, mengapa ia bisa mengikuti kompetisi, bertanding, dan menjadi Juara 1?

Kalau memang tidak memenuhi syarat, mengapa proses itu tidak dihentikan sejak awal?

Dan bagaimana menjelaskan kepada seorang anak bahwa setelah ia berjuang sampai menjadi juara, kesempatan itu tiba-tiba hilang karena persoalan administratif yang bukan ia buat?

Yang semakin sulit dipahami adalah ketika anak yang tidak mengikuti lomba justru dihubungi untuk mengikuti ajang ke tingkat provinsi.

Di titik ini, yang dipertanyakan bukan sekadar SK tapi  dimana keadilan dalam proses pendidikan ini?

Anak-anak diajarkan bahwa prestasi lahir dari proses. Mereka diajarkan bekerja keras. Mereka diajarkan sportivitas.
Mereka diajarkan bahwa setiap perjuangan akan dihargai.

Tetapi apa yang terjadi ketika seorang anak sudah menjalani semua itu dan menjadi juara?

Apakah juara tetap juara ketika administrasi berkata sebaliknya?

SK dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah saja dapat mengalami perubahan atau perbaikan apabila terdapat persoalan dalam prosesnya.

Sedangkan anak kami bahkan belum memiliki SK penetapan untuk melaju ke tingkat Provinsi, aduhai inikah pendidikan itu?

Yang sedang dipersoalkan adalah persoalan administrasi. Lalu mengapa persoalan administratif seolah-olah menjadi jalan buntu yang tidak mungkin dicarikan solusi?

Apakah administrasi lebih penting daripada hati seorang anak?

Apakah selembar dokumen lebih kuat daripada perjuangan seorang juara?

Tidak ada yang meminta belas kasihan.
Tidak ada yang meminta perlakuan khusus.
Yang diminta hanyalah keadilan dan ruang dialog.

Duduklah bersama kami.
Dengarkan kami.
Dengarkan anak kami.
Lihat bagaimana ia berproses.

Lihat bagaimana ia berjuang.
Lihat bagaimana piala yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan kini justru menjadi pengingat atas sebuah kekecewaan yang begitu dalam.

Sebab ada sesuatu yang mungkin tidak tercatat dalam laporan Dinas Pendidikan

seorang anak telah kehilangan semangat bukan karena ia gagal, tetapi karena ia merasa perjuangannya tidak dihargai.

TRAUMA ITU TIDAK TIDAK MASUK DALAM BERITA ACARA
TIDAK TERCANTUM DALAM SERTIFIKAT
TIDAK TERLIHAT DALAM LABEL ADMINISTRASI

Tetapi kami sebagai orang tuanya melihatnya setiap hari. Tentu kami terus membisikkan “Jangan berhenti menulis, Sayang. Inilah proses itu.”

Namun luka tidak selalu bisa disembuhkan hanya dengan kalimat

“Tetap semangat.”

Maka hari ini pertanyaannya sederhana untuk pemberi keputusan.

Pernahkah kalian memikirkan trauma anak kami?

Pernahkah kalian ingin duduk bersama kami dan berdiskusi?

Pernahkah kalian bertanya bagaimana perasaan seorang anak yang berlatih sampai pukul tiga dini hari, menjadi Juara 1, tetapi kemudian harus kehilangan kesempatan bukan karena ia kalah?

Karena jika pendidikan benar-benar untuk anak, maka jangan hanya hitung administrasinya.

Hitung juga air mata mereka.
Jangan hanya lihat siapa yang tercatat dalam sistem.

Lihat siapa yang telah berjuang di lapangan.

Dan jangan hanya bangga ketika anak-anak membawa pulang piala.

Pastikan tangan yang membawa piala itu tidak pulang membawa trauma.

Anindita sudah melakukan bagiannya.

Ia sudah menulis.
Ia sudah berlatih.
Ia sudah bertanding.
Ia sudah menang.
Hari ini
Ia menangis
Ia luka
Ia trauma yang kalian ciptakan sendiri.

Hormat saya,

Siti Salmah
(seorang Ibu yang memeluk luka anaknya)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index