Oleh: Irvan Nasir
KITA hidup di zaman yang aneh. Informasi melimpah, tetapi kebenaran terasa semakin sulit ditemukan. Media sosial dipenuhi opini, hoaks, propaganda, dan narasi yang sering kali lebih kuat daripada fakta. Dalam dunia seperti ini, orang tidak lagi bertanya apa yang benar, tetapi narasi mana yang paling meyakinkan.
Fenomena ini sering disebut sebagai post-truth - sebuah kondisi ketika emosi, identitas, dan propaganda lebih menentukan opini publik daripada fakta.
Menariknya, Al-Qur’an sudah menggambarkan fenomena semacam ini sejak berabad-abad lalu. Salah satu surah yang sangat relevan untuk membaca situasi ini adalah Surah Ash-Shu‘ara - surah yang secara harfiah berarti para penyair.
Surah ini pada dasarnya berbicara tentang pertarungan narasi.
Di dalamnya diceritakan bagaimana para nabi membawa kebenaran, tetapi ditolak oleh masyarakatnya. Kisah Musa yang berhadapan dengan Fir'aun, misalnya, bukan hanya kisah mukjizat melawan sihir. Ia juga kisah tentang bagaimana kekuasaan menciptakan narasi untuk mempertahankan dominasi.
Fir’aun tidak langsung melawan Musa dengan argumen. Ia menggunakan propaganda. Musa dituduh sebagai penyihir, pembuat kekacauan, dan ancaman bagi stabilitas negara. Ini bukan strategi baru. Sepanjang sejarah, kekuasaan sering mempertahankan dirinya dengan cara yang sama: membentuk persepsi publik.
Dalam istilah modern, ini adalah manipulasi opini.
Surah ini kemudian mengulang pola yang sama pada kisah para nabi lain seperti Nuh, Hud, Saleh, dan Lut. Para nabi membawa pesan moral dan kebenaran, tetapi mayoritas masyarakat menolak mereka. Alasan penolakannya sering kali bukan karena argumen yang kuat, melainkan karena tekanan sosial, kepentingan ekonomi, atau sekadar mengikuti arus mayoritas.
Di sinilah kita melihat pola yang sangat modern: kebenaran sering kalah oleh opini yang populer.
Pada bagian akhir surah, Al-Qur’an menyebut para penyair - kelompok yang pada masa Arab kuno memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Para penyair dapat memuliakan seseorang dengan satu puisi, tetapi juga bisa menjatuhkannya dengan syair yang tajam.
Karena itu Al-Qur’an mengingatkan bahwa para penyair sering diikuti oleh orang-orang yang tersesat - bukan karena puisi itu buruk, tetapi karena kata-kata bisa menjadi alat manipulasi.
Jika kita menerjemahkan pesan ini ke dalam dunia hari ini, penyair itu mungkin bukan lagi penulis syair di pasar Arab. Mereka bisa berupa influencer, buzzer, pembuat konten, atau propagandis digital. Kata-kata mereka tersebar cepat melalui algoritma media sosial, membentuk opini publik dalam hitungan jam.
Masalahnya, dalam dunia digital, kebenaran sering berjalan lambat, sementara hoaks berlari sangat cepat.
Narasi palsu sering dibuat dengan sangat rapi: emosional, dramatis, dan mudah dibagikan. Orang membagikannya bukan karena sudah memverifikasi, tetapi karena sesuai dengan perasaan atau identitas kelompoknya.
Inilah inti dunia post-truth: ketika emosi lebih dipercaya daripada fakta.
Surah Ash-Shu‘ara mengingatkan bahwa situasi seperti ini bukanlah hal baru. Sejak zaman para nabi, manusia memang sering terjebak dalam propaganda dan ilusi narasi. Mayoritas tidak selalu benar, dan kebenaran sering datang dari suara yang kecil dan tidak populer.
Namun surah ini juga memberikan harapan. Ia menutup dengan pengecualian yang penting: tidak semua kata-kata menyesatkan. Ada kata-kata yang justru menyelamatkan - kata-kata yang lahir dari iman, kejujuran, dan keberanian membela kebenaran.
Artinya, bahasa dan narasi adalah alat yang netral. Ia bisa menjadi senjata manipulasi, tetapi juga bisa menjadi cahaya pencerahan.
Di era media sosial, setiap orang sebenarnya telah menjadi “penyair” dalam arti baru. Setiap status, komentar, atau unggahan adalah bagian dari arus narasi yang membentuk kesadaran masyarakat.
Karena itu pertanyaannya bukan lagi sekadar: apa yang ingin kita katakan?
Tetapi yang jauh lebih penting:
apakah kata-kata kita memperkuat kebenaran, atau justru menambah kebisingan dunia yang sudah penuh dengan narasi palsu?
Surah Ash-Shu‘ara seakan mengingatkan kita: dalam dunia yang dipenuhi propaganda, keberanian untuk berpihak pada kebenaran adalah bentuk ibadah yang sangat mulia. (*)