Sebuah Resensi Buku: Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya karya Rida K. Liamsi

Jumat, 17 Juli 2026 | 15:44:53 WIB
Irvan Nasir dan Rida K Liamsi

Oleh : Irvan Nasir

Bagi peminat dan peneliti sejarah Melayu, kitab Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji yang ditulis pada abad ke-19 merupakan sebuah "kitab suci" historiografi yang hampir tidak pernah dipertanyakan kedaulatannya. Selama berabad-abad, teks klasik ini sukses mengonstruksikan sebuah narasi besar tentang betapa ideal, sakral, dan romantisnya Sumpah Setia Melayu-Bugis yang diikat pada tahun 1722. Dalam ingatan kolektif yang dibangun oleh Tuhfat al-Nafis, persatuan antara Sultan (faksi Melayu) dan Yang Dipertuan Muda (faksi Bugis) digambarkan berjalan harmonis tanpa riak, sebuah kerja sama politik dua puak yang tanpa cacat.

Namun, benarkah sejarah di lapangan seindah dan seromantis itu?

Melalui buku terbarunya yang provokatif, "Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya", Datuk Seri Lela Budaya Rida K. Liamsi datang membawa palu godam historiografi. Tokoh budaya dan sejarawan terkemuka Riau ini dengan berani menyajikan sebuah kontra-narasi (counter-narrative) yang meretakkan mitos keharmonisan absolut tersebut. Rida tidak sedang merobek sejarah, melainkan sedang menyeimbangkan timbangan masa lalu yang selama ini dianggap condong dan bias.

Halaman :

Terkini