Sebuah Resensi Buku: Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya karya Rida K. Liamsi

Jumat, 17 Juli 2026 | 15:44:53 WIB
Irvan Nasir dan Rida K Liamsi

Membongkar Ilusi "Tawanan Emas" di Istana Riau

Tesis utama yang tersirat kuat dalam buku Rida K. Liamsi ini adalah pembongkaran terhadap ilusi kedamaian dalam Tuhfat al-Nafis. Sebagai seorang keturunan bangsawan Bugis, Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis memiliki bias bawah sadar yang tak terhindarkan: menonjolkan kegagahan Lima Putra Bugis (Daeng Parani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, dkk) dan mengecilkan gejolak batin puak Melayu.

Rida K. Liamsi masuk ke celah sejarah yang sengaja disembunyikan tersebut. Ia menggambarkan atmosfer Riau-Johor pada pertengahan abad ke-18 sebagai arena tarung relasi kuasa yang sangat tegang dan dingin. Di balik kemegahan takhtanya, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dipotret secara manusiawi sebagai penguasa yang "gerah", terisolasi, dan menjadi semacam tawanan emas di istananya sendiri.

Bagaimana tidak? Berdasarkan implementasi Sumpah Setia  Melayu-Bugis 1722, seluruh urusan eksekutif, kendali militer, monopoli perdagangan timah, hingga jalur candu dipegang mutlak oleh Yang Dipertuan Muda Bugis, yang kala itu dipimpin oleh Daeng Kamboja. Faksi Melayu perlahan menyadari bahwa kedaulatan pribumi mereka sedang dikebiri secara perlahan oleh dominasi agresif puak pendatang dari Sulawesi tersebut, yang bahkan mendatangkan 200 pendekar Bugis tambahan untuk memperkuat barisan militer mereka di Riau.

Halaman :

Terkini