Pertamina Diperkirakan Butuh Hingga Rp168 Triliun untuk Bangun RDMP Kilang Dumai

Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:24:00 WIB
Kebakaran kilang Dumai pada 1 Oktober 2025./dok. Kilang Pertamina Internasional

SEBALIK.COM, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$7 hingga US$10 miliar atau setara Rp118,13 triliun hingga Rp168,75 triliun untuk membangun proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Dumai, Riau.

Perkiraan tersebut disampaikan praktisi senior industri migas, Hadi Ismoyo. Ia menilai, jika RDMP Kilang Dumai mengacu pada peningkatan kapasitas sebesar 100.000 barel per hari seperti proyek RDMP Balikpapan, maka nilai investasinya bisa mencapai angka tersebut.

“Dengan asumsi peningkatan kapasitas 100.000 barel per hari seperti di Balikpapan, biaya investasi RDMP Dumai bisa berkisar US$7 sampai US$10 miliar, tergantung kompleksitas kilang dan jenis produk yang dihasilkan,” ujar Hadi saat dihubungi, Rabu (14/1/2026) dikutip dari bloombergtechnoz.com.

Hadi yang juga menjabat Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana menilai proyek kilang memiliki tantangan besar dari sisi keekonomian. Menurutnya, tingkat pengembalian investasi (internal rate of return/IRR) proyek kilang relatif kecil, sementara kebutuhan modalnya sangat besar.

Di sisi lain, ia juga menyoroti tren global sektor energi yang secara bertahap bergerak menuju energi baru dan terbarukan (EBT) dalam jangka panjang, seiring target transisi energi hingga 2060.

Atas dasar tersebut, Hadi mendorong agar proyek RDMP Kilang Dumai tidak sepenuhnya mengandalkan anggaran negara, melainkan melibatkan partisipasi investor swasta guna berbagi risiko pendanaan.

“Dalam konteks sharing risk, kolaborasi dengan swasta akan jauh lebih baik. Tentu dengan skema dan syarat kerja sama yang menarik agar investor swasta bersedia masuk,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menyatakan bahwa Pertamina akan menggandeng investor swasta untuk menggarap proyek RDMP Kilang Dumai. Pernyataan tersebut disampaikan setelah peresmian proyek RDMP Balikpapan di Kalimantan Timur.

“Kita akan mengembangkan RDMP lain seperti di Dumai, termasuk peningkatan kapasitas dan fasilitas penyimpanan,” ujar Bahlil kepada awak media di Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Menurut Bahlil, skema kemitraan tersebut diharapkan memberi manfaat bagi semua pihak, baik Pertamina, negara, maupun investor swasta.

“Pertamina dapat untung, negara memiliki ketahanan energi, dan swasta juga mendapatkan kerja sama yang saling menguntungkan,” katanya.

Saat ini, Kilang Dumai dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), anak usaha Pertamina. Kilang tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 170.000 barel per hari dengan Nelson Complexity Index (NCI) sebesar 7,6.

Produk yang dihasilkan Kilang Dumai meliputi Pertalite, Pertamax, Solar, Pertadex, Avtur, Marine Fuel Oil Low Sulfur (MFO LS), hingga Green Coke.

Sebagai perbandingan, proyek RDMP Balikpapan yang baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026 menelan investasi sekitar Rp123 triliun. Proyek tersebut meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari, sekaligus menambah produksi LPG, propylene, dan sulfur.

“Saya bangga hari ini kita melangkah menuju kemandirian energi dan berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Presiden Prabowo saat peresmian RDMP Balikpapan. (*)

Terkini