SEBALIK.COM, PEKANBARU – Universitas Lancang Kuning (Unilak) kembali menegaskan perannya sebagai pusat penguatan budaya Melayu di tingkat regional dan internasional. Bertempat di Aula Pustaka Unilak, Kamis (15/01/2026), Unilak menyambut kunjungan delegasi Universiti Malaya (Malaysia) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau dalam kegiatan Lawatan Budaya dan Kuliah Umum Tamadun Melayu.
Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi akademik lintas negara sekaligus forum refleksi bersama untuk menggali dan memperkuat kembali nilai-nilai Tamadun Melayu sebagai identitas bersama masyarakat serumpun Nusantara.
Wakil Rektor I Universitas Lancang Kuning, Dr. Zamzami, M.Kom, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tamu dan menekankan komitmen Unilak dalam menjaga kesinambungan budaya Melayu di tengah perkembangan teknologi.
“Kami mengucapkan selamat datang kepada delegasi Universiti Malaya dan UIN Suska Riau di Universitas Lancang Kuning. Pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi momentum strategis untuk meneguhkan komitmen bersama dalam merawat warisan Tamadun Melayu. Unilak terus berupaya mengintegrasikan nilai budaya dengan kemajuan teknologi agar tetap relevan bagi generasi masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor I UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Prof. Raihani, M.Ed., Ph.D, menegaskan bahwa penguatan Tamadun Melayu tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif.
“Kehadiran kami bersama Universiti Malaya di Unilak merupakan wujud nyata sinergi perguruan tinggi dalam menjaga marwah Melayu. Melalui kuliah umum ini, kita berharap lahir generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam karakter dan identitas budayanya,” ungkapnya.
Perwakilan Universiti Malaya, Dr. Moh. Syukri bin Zainal Abidin, turut menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan Unilak. Ia menyebut lawatan budaya ini sebagai simbol persaudaraan serumpun yang melampaui batas geografis dan politik.
“Bagi kami, lawatan ini adalah kepulangan ke rumah saudara sendiri. Tamadun Melayu merentasi sempadan negara, dan dunia pendidikan memiliki peranan penting dalam memastikan bahasa, sastera, serta adat Melayu terus hidup dan relevan. Semoga perkongsian ilmu hari ini membuka cakrawala pemikiran baharu bagi mahasiswa dan akademisi di kedua-dua negara,” tuturnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi kuliah umum yang diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas. Diskusi berlangsung dinamis dengan fokus pada pelestarian bahasa Melayu, penguatan nilai budaya, serta peran generasi muda dalam menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi. (*)