Jelang Ramadan, Kemenag Percepat Pemulihan Masjid dan Layanan Keagamaan Pascabanjir Aceh

Rabu, 14 Januari 2026 | 00:10:00 WIB
Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad tinjau lokasi pemulihan dampak bencana di Aceh

SEBALIK.COM, ACEH – Kementerian Agama (Kemenag) bergerak cepat memulihkan fasilitas ibadah dan layanan keagamaan yang terdampak banjir di sejumlah wilayah Aceh menjelang Ramadan 1447 H. Upaya ini dilakukan untuk memastikan hak masyarakat dalam menjalankan ibadah tetap terpenuhi meski berada dalam situasi pascabencana.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya menyasar pemulihan fisik, tetapi juga aspek spiritual masyarakat.

“Pemulihan harus menyentuh aspek fisik dan spiritual secara bersamaan. Masjid, KUA, madrasah, dan ruang keagamaan lainnya harus segera difungsikan kembali, terlebih menjelang Ramadan. Layanan keagamaan tidak boleh terhenti,” ujar Abu Rokhmad saat meninjau lokasi terdampak banjir di Aceh, Selasa (13/1/2026).

Dalam kunjungannya, Abu Rokhmad meninjau sejumlah posko kemanusiaan, masjid, Kantor Urusan Agama (KUA), dan madrasah di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, hingga Aceh Utara. Ia berdialog langsung dengan warga, penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan relawan guna memetakan kebutuhan mendesak serta memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran.

Abu menyampaikan bahwa pemulihan layanan keagamaan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, melibatkan BAZNAS, lembaga amil zakat (LAZ), unsur masyarakat, hingga perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut memungkinkan percepatan pemulihan, mulai dari penyediaan dapur umum, air bersih, hingga sarana ibadah.

Di Pidie Jaya, Kemenag meninjau posko BAZNAS yang menyediakan MCK darurat, air bersih, serta meunasah yang terdampak banjir. Sementara di wilayah lain, Kemenag bersama LAZ ASAR mendukung dapur umum bagi ratusan kepala keluarga, kegiatan gotong royong warga, serta pembersihan masjid dengan dukungan alat berat. Bantuan perlengkapan ibadah seperti Al-Qur’an, mukena, sarung, dan sajadah turut disalurkan sesuai kebutuhan lapangan.

Pada sektor pendidikan keagamaan, Abu memastikan aktivitas belajar mengajar di madrasah tetap berjalan. Peninjauan dilakukan di MIN 4 Pidie Jaya yang telah direnovasi, termasuk penyediaan madrasah sementara agar proses pendidikan tidak terhenti.

“Madrasah harus tetap menjadi ruang aman dan harapan bagi anak-anak, meskipun dalam kondisi pascabencana,” tegasnya.

Di Kabupaten Bireuen, Abu juga meninjau dapur umum, distribusi beras, serta penyediaan air bersih melalui sumur bor. Ia menilai masjid dan meunasah memiliki peran strategis sebagai pusat layanan sosial dan keagamaan, sekaligus ruang pemulihan psikososial masyarakat.

Selain pemulihan fisik, Kemenag juga mendorong pembinaan keagamaan dan dukungan psikologis bagi warga terdampak. Sejumlah kegiatan seperti pengajian, pembagian Al-Qur’an dan Iqra, serta trauma healing dilaksanakan dengan melibatkan relawan dan pemangku kepentingan zakat dan wakaf.

Abu menambahkan, peran KUA menjadi perhatian khusus dalam situasi krisis. Kemenag memastikan layanan pencatatan nikah, konsultasi keagamaan, zakat, wakaf, hingga mediasi sosial tetap berjalan di wilayah terdampak.

“KUA adalah garda terdepan layanan keagamaan di tingkat akar rumput, terutama saat masyarakat menghadapi krisis,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan langsung, Kemenag juga menyalurkan bantuan berupa sarung, mukena, sajadah, mushaf Al-Qur’an, dan tikar. Bantuan ini melengkapi dukungan anggaran yang telah dialokasikan Kemenag untuk pemulihan layanan keagamaan pascabencana.

Abu Rokhmad menegaskan komitmen Kemenag untuk terus mengawal proses pemulihan secara bertahap dan berkelanjutan melalui sinergi antara pemerintah, lembaga zakat, dan masyarakat.

Sebelumnya, Bimas Islam Kemenag juga menyalurkan bantuan pascabencana di Padang, Sumatra Barat, senilai Rp1,075 miliar serta mengalokasikan anggaran APBN sebesar Rp1,860 miliar untuk pembangunan gedung KUA, guna memastikan layanan keagamaan tetap berjalan optimal pascabencana. (*)

Terkini