Ketika Sekulerisme Mengancam Kehidupan, Percobaan Mengakhiri Hidup jadi Pilihan

Sabtu, 19 September 2026 | 16:11:58 WIB
Foto/ilustrasi

Oleh : Desi Melza SHum

(Pegiat Literasi Islam Pekanbaru)

BERBAGAI pemberitaan banyak muncul di media sosial akhir-akhir ini yaitu tentang bunuh diri. 

Apa saja yang melatarbelakangi generasi ini yang berpikir bahwa dengan mengakhiri hidupnya semua akan berakhir begitu saja. 

Padahal efeknya jauh lebih besar dari sekedar berhenti menjalani masalah. Apapun permasalahan ada solusinya. 

Namun, ketika tekanan sudah mengancam nyawa maka hal ini harus segera diselesaikan dan carilah bantuan dari pihak yang berkompeten. Baik dari pihak keluarga ataupun dari ahli yang mampu menangani setiap permasalahan tersebut. Namun, sangat disayangkan ketika mereka yang dalam keadaan depresi takut untuk mencari bantuan.

Seorang mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya diduga mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 6 kampus, Kamis (10/9/2026). 

Korban selamat dan hingga kini dalam perawatan intensif di rumah sakit. Mahasiswa itu terjun dari lantai 6 gedung Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK) pada Kamis pagi. 

Semula korban diduga berasal dari Fakultas Pertanian yang menjadi tempatnya mau bunuh diri. Namun, belakangan diketahui, korban adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran (FKUB).(kompas.id,10/09/2026)

Akumulasi masalah dan rasa terisolasi diduga melatarbelakangi lelaki berinisial FS (30) untuk mengakhiri hidupnya sendiri di Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. 

Melalui media sosial, dia merasa hanya di sana bisa mencurahkan permasalahan yang sedang dialaminya, termasuk niatnya bunuh diri.(kompas.id,10/09/2026)

Dari dua kasus di atas dapat dilihat bahwa ini merupakan fenomena yang banyak terjadi di masyarakat. Kondisi masyarakat yang tidak tahu harus bagaimana menjalani hidupnya di dalam ekosistem kehidupan yang rusak ini. 

Tumpukan masalah yang menimpa mereka tak mampu mereka urai untuk diselesaikan hingga dengan mengakhiri hidup menjadi tujuan akhir mereka. Ditambah lagi stigma negatif dalam masyarakat ketika seseorang benar-benar merasa depresi.

Bahkan Kemenkes memiliki layanan pertolongan pertama bagi masalah kejiwaan yaitu healing.119.id yang dapat membantu siapa saja yang merasa membutuhkan pertolongan pertama bagi yang merasa putus asa atau ada keinginan mengakhiri hidup. 

Banyaknya klien yang didominasi usia 21-30 tahun menunjukkan rapuhnya kesehatan mental generasi muda. Akses ini berlaku hanya sebagai pertolongan pertama saja, maka selanjutnya bagi yang merasa membutuhkan pertolongan kepada ahlinya maka harus disegerakan agar kesehatan mental benar-benar menjadi perhatian yang serius.

Generasi Berjuang Sendiri

Saat ini para generasi muda hanya bisa berharap terhadap kekuatan diri sendiri. Apapun diperjuangkan sendiri. Ditambah lagi dengan berbagai tekanan hidup yang datang dari segala sisi, baik berupa hubungan pekerjaan, hubungan pertemanan bahkan dalam hal keuangan. 

Banyaknya tekanan hidup ini membuat mereka kebingungan kemana arah tujuan hidup yang akan dijalani. Apalagi sistem kehidupan sekulerisme yang memang menjauhkan peran agama dari kehidupan. 

Hal ini menjauhkan mereka dari akidah yang benar yang akan membentuk keimanan sebagai benteng pertahanan ketika sebuah keputusasaan mulai tampak.

Dalam kehidupan yang tak tentu kemana arah dan tujuan hidup, mereka juga dihadapkan dalam kondisi masyarakat yang individualistik. Karena ketiadaan sistem masyarakat yang kuat dimana saling ada ketergantungan ataupun ikatan yang membuat mereka saling memahami bahkan saling membantu dan mengawasi antar sesama individu. 

Hal ini muncul dari sistem kehidupan yang rusak, yang hanya fokus pada individu semata dan memandang kecukupan materi mampu membuat kehidupan tetap berjalan normal apalagi fokus hanya mengejar kesuksesan individu. 

Akhirnya merebak gejala kesepian di tengah ramainya masyarakat dan kehilangan rasa saling ketergantungan antar sesama.

Semua ini adalah buah dari penerapan kehidupan sekulerisme-kapitalisme. Kehidupan yang jauh dari agama dan hanya fokus pada pencapaian materi semata. 

Akhirnya membentuk pribadi yang rapuh dan masyarakat yang individualistik. Masyarakat yang hanya fokus pada kehidupan sendiri saja tanpa memperhatikan sekitar. Hal ini juga dipengaruhi oleh penerapan sistem pendidikan sekuler dan ekonomi kapitalis. 

Sistem pendidikan yang jauh dari model pendidikan Islam, ketika pencapaian terbaik itu bukan hanya sekedar nilai semata. Pendidikan Islam fokus pada pembentukan pola pikir dan pola sikap yang ujungnya membentuk Kepribadian Islam. Ditambah lagi dengan penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang semakin membuat masyarakat mengejar kepuasan materi semata.

Islam Membentengi Generasi Dari Putus Asa

Melihat kondisi rapuhnya generasi ini sudah jelas mereka jauh dari benteng keimanan yang kuat. Keimanan tidak muncul dari diri seseorang secara tiba-tiba. Ia butuh diperkuat dan dibina. 

Maka untuk membentengi rapuhnya generasi dibutuhkan akidah yang tertanam sejak dini yang akan menjaga mereka dari keputusasaan. Islam benar-benar membangun akidah dengan kuat dalam diri seseorang, sehingga setiap mengalami kesulitan maka akan ada keyakinan bahwa ini adalah ujian dari Allah SWT. 

Karena dalam setiap kesulitan ada kemudahan. Inilah yang seharusnya menjadi pemikiran seseorang untuk semakin menguatkan keyakinannya terhadap ujian dalam hidup. 

Ketika keputusasaan menghantui, bunuh diri bukanlah solusi. Hal tersebut jelas diharamkan dan dosa besar.

Islam mampu menghadirkan ikatan yang benar dan kuat. Ikatan itu adalah ikatan akidah. Nagara harusnya mampu membentuk ikatan akidah ini agar terbentuk pula ikatan antar keluarga dan masyarakat. 

Kuatnya ikatan keluarga akan mencegah dari rasa kesepian seseorang ketika memiliki permasalahan dalam hidupnya. 

Begitu juga dalam masyarakat ketika ikatan berdasarkan akidah Islam maka muncullah kasih sayang kepada sesama dan menjauhkan sikap individualistik. Tidak ada lagi orang yang merasa hidup sendiri di tengah keramaian.

Dengan hadirnya Islam di tengah-tengah masyarakat mampu membentengi dari rapuhnya sistem kehidupan individualis. Islam yang benar-benar membentuk ikatan akidah ini sebagai ikatan yang kuat hanya mampu dilakukan oleh negara dengan menerapkan Islam secara kaffah atau sempurna. 

Islam benar menjadi standar hidup dalam segala penyelesaian masalah kehidupan. Negara mampu membentuk pendidikan yang berbasis akidah Islam dan menerapkan sistem ekonomi Islam. 

Pendidikan akan membentuk generasi yang kuat dan berkepribadian Islam dan sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan masyarakat sehingga kokohnya sistem ini mampu membentuk generasi yang kokoh dan ikatan masyarakat yang kuat yang jauh dari rasa putus asa.

_Wallahu a’lam bhi ash shawabh_ (*)

Terkini