Oleh: Dr H Zulfikri Toguan SH MH MM (Nahdliyin Riau)
MUKTAMAR ke-35 Nahdlatul Ulama menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU membawa harapan baru bagi jutaan Nahdliyin di seluruh Indonesia, termasuk kami para Nahdliyin di Riau.
Pergantian kepemimpinan dalam sebuah organisasi sebesar NU bukan sekadar pergantian figur. Lebih dari itu, ia merupakan momentum untuk memperkuat kembali ukhuwah, konsolidasi organisasi, pengabdian kepada umat, serta kontribusi NU bagi bangsa dan negara.
Menjaga Tradisi, Menghadapi Perubahan
KH Miftachul Akhyar merupakan sosok ulama yang memiliki akar kuat dalam tradisi keilmuan dan pesantren. Kehadiran beliau sebagai Rais Aam diharapkan dapat terus menjaga manhaj Aswaja, tradisi keulamaan, serta karakter NU yang selama ini menjadi kekuatan utama organisasi.
Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz diharapkan mampu membawa energi kepemimpinan yang kuat dalam mengelola organisasi dengan pendekatan yang profesional, efektif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Keduanya memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi. Rais Aam menjadi penjaga ruh dan nilai-nilai keulamaan NU, sedangkan Ketua Umum menjadi penggerak roda organisasi dan program-program strategis NU.
Di sinilah pentingnya sinergi. NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga memiliki keteladanan, kebijaksanaan dan kemampuan merangkul seluruh komponen Nahdliyin.
Pesan dari Riau: Saatnya NU Bersatu
Sebagai Nahdliyin dari Riau, saya melihat bahwa salah satu kebutuhan terbesar NU hari ini adalah konsolidasi dan persatuan.
NU sangat besar. Struktur organisasinya menjangkau sampai ke tingkat desa. Pesantren, madrasah, perguruan tinggi, badan otonom, lembaga-lembaga NU dan para kiai merupakan kekuatan luar biasa yang apabila dikelola secara sinergis akan menjadi energi besar bagi umat dan bangsa.
Karena itu, kepemimpinan baru PBNU hendaknya menjadi rumah bersama seluruh Nahdliyin, tanpa sekat kelompok, kepentingan maupun perbedaan pilihan.
Tidak ada lagi istilah kelompok yang menang dan kelompok yang kalah. Setelah Muktamar selesai, semuanya kembali menjadi satu keluarga besar Nahdlatul Ulama.
NU Jangan Hanya Besar Secara Jumlah
Ke depan, tantangan NU semakin kompleks. Bonus demografi, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, persoalan lingkungan, kemiskinan, pendidikan dan persaingan global membutuhkan respons organisasi yang serius.
NU harus mampu melahirkan generasi muda Nahdliyin yang berilmu, berakhlak, profesional dan menguasai teknologi.
Di bidang ekonomi, NU juga perlu semakin kuat mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdliyin. Koperasi, UMKM, ekonomi pesantren, wakaf produktif, industri halal dan berbagai bentuk kewirausahaan harus menjadi perhatian serius.
NU jangan hanya menjadi organisasi yang besar karena jumlah jamaahnya. NU harus besar karena manfaatnya dirasakan masyarakat.
Riau Siap Bersinergi
Dari Riau, kami menyampaikan selamat dan penghormatan kepada KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz atas amanah besar yang diberikan oleh Muktamar ke-35.
Kami berharap kepemimpinan baru PBNU dapat memperkuat sinergi dengan seluruh wilayah, termasuk Riau. Potensi Riau sangat besar, baik dari sisi pesantren, pendidikan, ekonomi, perkebunan, sumber daya manusia maupun jaringan Nahdliyin.
NU Riau dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun ekonomi umat dan pendidikan yang berkemajuan, sekaligus menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Menjaga NU, Menjaga Indonesia
Pada akhirnya, NU bukan hanya berbicara tentang organisasi. Sejarah membuktikan bahwa NU mempunyai kontribusi besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Karena itu, nakhoda baru PBNU mempunyai amanah besar untuk menjaga NU tetap menjadi kekuatan keagamaan, kebangsaan dan kemasyarakatan.
Harapan kami sederhana: NU semakin rukun, semakin mandiri, semakin profesional, semakin dekat dengan umat dan semakin bermanfaat bagi bangsa.
Dari Riau kami titipkan harapan kepada dua nakhoda baru NU:
Rawat ulama, kuatkan jamaah, satukan Nahdliyin, bangun kemandirian umat, dan terus jaga Indonesia dalam bingkai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Selamat mengemban amanah kepada KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz.
Salam hormat dari Riau. (*)