SEBALIK.COM , DURI - Literasi tidak semestinya berhenti di antara sampul buku dan ruang-ruang diskusi. Ia harus tumbuh menjadi kesadaran, melahirkan keberanian bersuara, dan pada akhirnya diwujudkan dalam tindakan nyata.
Semangat itulah yang dibawa dalam BAKARA (Bedah Aksara, Bawa Suara) “Membumikan Literasi di Ruang Kota”, yang digelar di halaman LAMR Kecamatan Mandau, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi anak muda untuk membaca, membedah gagasan, bertukar perspektif, sekaligus membicarakan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan masa depan Kota Duri.
Efri Su’if SSos, penggagas BAKARA mengatakan, kegiatan ini lahir dari kegelisahan bahwa budaya literasi tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial. Membaca buku seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan, membangun kesadaran kritis, dan mendorong lahirnya gerakan sosial yang memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.
Efri mengatakan bahwa gerakan literasi harus memiliki keberlanjutan dan tidak berhenti pada satu agenda.
“Kita ingin BAKARA menjadi ruang yang mempertemukan literasi dengan realitas. Membaca bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan itu melahirkan kepedulian dan kemudian diwujudkan dalam gerakan yang berdampak bagi masyarakat,” ujar Efri.
Menurutnya, literasi dan persoalan lingkungan merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan. Karena itu, BAKARA ke depan tidak hanya menghadirkan kegiatan bedah buku, tetapi juga dirancang untuk terlibat dalam berbagai aksi sosial dan lingkungan.
Di antaranya melalui gerakan Duri Bersih dan penanaman pohon sebagai bentuk konkret bahwa budaya membaca harus memiliki hubungan langsung dengan kepedulian terhadap ruang hidup.
“Apa artinya kita banyak membaca tentang masa depan, jika kita tidak ikut menjaga lingkungan yang menjadi tempat masa depan itu tumbuh?” kata Efri.
Febrian, Wakil Presiden BEM ITMG, berharap BAKARA dapat menjadi ruang konsisten bagi mahasiswa dan generasi muda untuk membangun tradisi intelektual sekaligus keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.
“Harapannya BAKARA tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Kita ingin ini menjadi ruang yang rutin, tempat mahasiswa dan pemuda bertukar gagasan, membangun relasi, sekaligus menghadirkan kegiatan yang memberikan dampak nyata bagi Kota Duri,” kata Febrian.
Ke depan, BAKARA ditargetkan berlangsung rutin setiap bulan dengan menghadirkan berbagai tema dan aktivitas yang relevan dengan persoalan masyarakat, kepemudaan, pendidikan, sosial, serta lingkungan.
Gagasan utamanya sederhana : membangun ruang literasi yang tidak berjarak dengan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, ruang publik perlu kembali menjadi tempat bertemunya gagasan. Buku tidak cukup hanya dibaca. Ia harus didiskusikan. Gagasan tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus diuji melalui kenyataan. Dan suara anak muda tidak cukup hanya terdengar di media sosial. Ia harus hadir dalam kerja-kerja nyata.

BAKARA mencoba memulai langkah tersebut dari Duri.
Sebab satu kota tidak hanya dibangun oleh infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas manusia yang hidup di dalamnya.
Dari aksara lahir gagasan.
Dari gagasan lahir kesadaran.
Dari kesadaran lahir gerakan.
Dan dari gerakan, perubahan menemukan jalannya. (Rls)