Satu Juta Pengangguran Sarjana, Minimnya Penyerapan Tenaga Kerja

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:55:55 WIB
Foto ilustrasi

Oleh : Desi Melza SHum

( Pegiat Literasi Islam Pekanbaru)

DUNIA kerja saat ini cukup mengkhawatirkan. Disamping banyaknya PHK, ternyata jutaan sarjana pun menganggur. Jumlah tamatan sarjana tidak sebanding dengan jumlah ketersediaan lapangan pekerjaan. Hal ini masih menjadi momok yang menghantui para generasi muda untuk meraih pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menyebutkan, total penduduk usia kerja yang menganggur mencapai 7,22 juta orang. Sekitar 14,31 persen atau 1.033.182 orang di antaranya merupakan pengangguran yang berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, dan S-3 (sarjana). (kompas.id,07/08/2026)

Harapan terhadap 19 juta lapangan pekerjaan ternyata belum bisa menjadi penyelesaian permasalahan pengangguran yang tinggi. Jauh dari harapan ketika program yang dihadirkan pemerintah belum mampu menyerap tenaga kerja yang memang dibutuhkan sesuai dengan jumlah lulusan perguruan tinggi.

Di tengah badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang makin meluas, tetapi tidak diikuti dengan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja yang sebanding. Bahkan dikatakan angka pertumbuhan ekonomi naik. Sungguh ironi.

Akhirnya situasi ini berdampak kepada banyaknya job fair yang dipenuhi para pencari kerja. Bahkan orang tua pun tak segan untuk menemani anaknya mencari pekerjaan disamping memberikan semangat. Karena begitu sulitnya mendapatkan kesempatan pekerjaan dengan persaingan yang ketat. Namun, banyak perusahaan ternyata mensyaratkan suatu pekerjaan dengan adanya pengalaman sebelumnya. Padahal untuk mendapatkan pengalaman pertama inilah yang mereka kadang sulit.

Kehidupan Dalam Sistem Yang Rusak

Setelah dilihat dari keseluruhan permasalahan manusia dalam negara ini adalah dampak dari sebuah sistem. Sistem yang mengatur kehidupan yang jauh dari kesejahteraan. Segalanya diukur dari kepentingan semata dan siapa yang berkuasa. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, pertumbuhan ekonomi diukur berdasarkan akumulasi modal dimana adanya penambahan dan penimbunan aset, kekayaan dan barang modal demi keuntungan dimasa depan. Tidak melihat kesejahteraan yang nyata individu masyarakat. Apakah memang sudah sejahtera?

Konsep dari ekonomi kapitalis adalah keuntungan dari pemilik modal dan kelangsungan hidup pekerja itu urusan nanti. Makanya banyak PHK dan pengangguran dibiarkan. Hal ini akan membuat masalah semakin besar ketika tidak ada solusi yang tepat untuk mengatasinya. Apalagi negara hanya menyerahkan penciptaan lapangan kerja hanya kepada pasar dan pihak swasta. Maka penyerapan tenaga kerja tidak akan terserap sempurna. Pasar dan pihak swasta juga hanya mampu melakukan sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing. Disamping itu, negara hanya bertindak sebagai regulator yang memastikan hal tersebut berlangsung. Padahal negara bisa melakukan lebih dari sekedar itu.

Semisal saja sumber daya alam (SDA) Indonesia ini benar-benar dikelola dengan baik maka sektor ini mampu menyerap tenaga kerja besar. Namun, kondisi saat ini Menggambarkan bahwa kekayaan SDA tersebut dikuasai oleh korporasi swasta atau asing demi investasi. Padahal SDA merupakan kepemilikan umum yang pengelolaannya harus digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Ketika sistem kapitalisme yang bercokol di dalam kehidupan ini, hal tersebut belum bisa kita rasakan.

Islam Solusi Problematika Umat

Bekerja merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan. Tetapi jika pemenuhan itu terasa sulit maka segalanya akan sulit. Dalam Islam merupakan suatu ukuran keberhasilan ekonomi dengan terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu. Bukan hanya sekedar akumulasi modal saja. Negara harusnya memfasilitasi kebutuhan pokok rakyat yang mudah dan terjangkau.

Dalam sistem Islam negara wajib mengurusi rakyatnya. Dari segala pemenuhan kebutuhan pokok, menjamin kebutuhan rakyat yang kehilangan pekerjaan dan pengaturan dalam urusan hubungan kerja dan hak pekerja. Kesempurnaan Islam yang mampu melakukan segala aspek yang memang menjadi kebutuhan rakyatnya. 

Ketika sistem kapitalisme menjadikan negara hanya sebagai regulator , berbeda dengan Islam yang menganggap negara merupakan _raa’in_ bagi rakyat. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW :

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Pengurus rakyat, inilah tugas dari seorang pemimpin. Melalui banyak cara dengan membuka lapangan kerja, mengembangkan industri strategis serta memfasilitasi keterampilan dan penempatan kerja.

Semua pengurusan kebutuhan rakyat tadi mampu dilakukan oleh negara yang benar-benar menjadikan syariat Islam sebagai acuan bernegara. Apalagi dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia mampu menopang kehidupan ekonomi dan menyerap tenaga kerja ketika dikelola sesuai fungsinya dan untuk kemaslahatan rakyat semata.

Wallaahu al’am bi ash shawaab. (*)

Terkini