Gus Yahya Disorot: Kompetensi Internasional Jadi Pembeda, Tuduhan 'Agen Zionis' Dijawab Tegas

Sabtu, 25 April 2026 | 21:12:36 WIB
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, dalam pertemuan dengan para pengurus PCNU se-Karesidenan Banyumas, di Ponpes Miftahul Huda Kroya.

SEBALIK.COM, JAWA TENGAH – Kapasitas internasional Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf kembali menjadi sorotan. Dalam pertemuan dengan para pengurus PCNU se-Karesidenan Banyumas di Ponpes Miftahul Huda Kroya, Sabtu (25/4), salah satu ketua PCNU menilai kemampuan diplomasi global Gus Yahya merupakan keunggulan yang tidak dimiliki banyak kader NU lainnya.

Pengakuan itu muncul di tengah polemik yang sempat mengemuka, ketika langkah-langkah internasional Gus Yahya, termasuk keterlibatannya dalam forum dan jejaring global justru memicu tuduhan miring. Ia bahkan dituding berafiliasi dengan kepentingan zionis, narasi yang sempat mengiringi upaya pemakzulan dirinya dari kursi Ketua Umum PBNU. Namun, langkah tersebut kandas setelah gelombang dukungan dari para kiai sepuh Nahdlatul Ulama.

Menjawab berbagai pertanyaan secara terbuka, Gus Yahya tidak menghindar. Ia menegaskan bahwa keterlibatan NU di panggung global adalah konsekuensi dari posisi organisasi yang sudah lama dikenal dunia.

“Memang sudah nasib NU ini dikenal dunia. Apa yang saya lakukan sekarang pun belum sebanding dengan yang dilakukan Abdurrahman Wahid dulu,” ujarnya.

Gus Yahya merujuk pada langkah-langkah diplomasi mendiang Gus Dur yang pernah menjalin komunikasi hingga bertemu dengan tokoh-tokoh Israel, termasuk Perdana Menteri Shimon Peres. Menurutnya, langkah tersebut adalah bagian dari upaya mencari jalan damai dalam konflik global, termasuk isu Palestina.

“Lalu apakah karena itu Gus Dur dan saya dianggap hilang iman? Silakan saja kalau ada yang menilai begitu. Tapi kalau kita ingin berperan di dunia, kita harus siap bertemu dan berhadapan dengan para aktor global itu,” tegasnya.

Ia menekankan, diplomasi bukan berarti kompromi terhadap prinsip, melainkan strategi untuk membuka ruang dialog dan mencari solusi damai. Dalam konteks konflik Palestina, Gus Yahya menegaskan bahwa pendekatan perang bukanlah pilihan yang diinginkan.

“Kita tidak ingin perang dengan Israel. Tapi kita juga tidak tinggal diam. Kita berikhtiar mencari jalan damai untuk memperjuangkan nasib Palestina,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Gus Yahya mengungkapkan alasan personal yang mendasari langkah-langkah internasionalnya. Ia mengaku tidak ingin kelak mempertanggungjawabkan sikap pasif di hadapan Tuhan, sementara dirinya memiliki akses dan jejaring dengan tokoh-tokoh dunia.

“Saya kenal banyak tokoh dunia—anggota senat Amerika, politisi Inggris, Belanda, dan lainnya. Saya tidak mau nanti dihisab karena tidak berbuat apa-apa untuk Palestina. Karena itu, pertemuan dengan tokoh dunia bukan sekadar perkenalan, tapi bagian dari ikhtiar memahami dan memengaruhi arah kebijakan global,” tandasnya.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi Gus Yahya, bahwa peran internasional NU bukan sekadar simbolik, melainkan strategi aktif dalam percaturan global, meski jarang disalahpahami, bahkan oleh kalangan internal sendiri. (*)

Terkini