Udang Nenek Jadi Komoditas Unggulan, Dorong Ekonomi Pesisir Indragiri Hilir

Kamis, 29 Januari 2026 | 20:27:00 WIB
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Indragiri Hilir, Drs. Eko Rahdippa, MM

SEBALIK.COM, TEMBILAHAN – Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terus mendorong penguatan sektor perikanan sebagai bagian dari pelaksanaan Misi 1 pembangunan daerah, yakni mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang merata, inklusif, dan berkelanjutan.

Salah satu komoditas unggulan yang kini semakin mendapat perhatian adalah udang nenek atau udang ketak (Squilla harpax de Haan), yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar yang luas.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Indragiri Hilir, Drs. Eko Rahdippa, MM, Kamis (29/1/2026), mengatakan bahwa udang nenek merupakan potensi perikanan strategis yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan pesisir.

“Udang nenek memiliki nilai ekonomis yang tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Ini sejalan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Inhil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Eko Rahdippa.

Udang nenek banyak ditemukan di perairan pesisir dan kawasan muara yang masih alami, terutama di Kecamatan Concong, Kuala Indragiri (Kuindra), Mandah, dan Tanah Merah. Musim penangkapan umumnya berlangsung dari November hingga Maret, dengan produksi harian nelayan mencapai sekitar 2.000 hingga 5.000 ekor.

Penangkapan udang nenek dilakukan menggunakan jaring rampus (drift gillnet) saat air pasang, serta secara manual melalui metode tradisional numbur saat air surut. Dalam kegiatan numbur, nelayan juga sering memperoleh hasil tangkapan tambahan seperti kerang dan ikan sembilang, yang turut menambah penghasilan mereka.

Dari sisi harga, udang nenek asal Inhil tergolong sangat kompetitif. Di tingkat nelayan, udang ukuran A dibanderol antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per ekor, sedangkan ukuran B berkisar Rp60 ribu hingga Rp100 ribu per ekor. Saat ini, pemasaran udang nenek Inhil telah menjangkau Batam, Jakarta, hingga Singapura, sehingga berpotensi menjadi komoditas ekspor regional.

Kecamatan Concong tercatat sebagai sentra utama penangkapan udang nenek di Kabupaten Indragiri Hilir dengan produksi yang relatif stabil selama musim panen. Untuk mendukung pengembangan komoditas ini, Dinas Perikanan Inhil secara berkelanjutan memberikan pendampingan kepada nelayan, termasuk pelatihan peningkatan kualitas hasil tangkapan serta bantuan alat tangkap yang ramah lingkungan.

“Kami terus mendorong nelayan untuk menjaga kualitas hasil tangkapan sekaligus memperhatikan keberlanjutan sumber daya perikanan. Dengan pengelolaan yang tepat, udang nenek dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat pesisir,” jelas Eko Rahdippa.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, potensi udang nenek diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan serta memperkuat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Indragiri Hilir secara berkelanjutan. (*)

Terkini