Pulau Bengkalis Jadi Pusat Belajar Konservasi Mangrove Nasional dan Internasional

Senin, 09 Februari 2026 | 10:00:00 WIB
Pulau Bengkalis, Provinsi Riau, menjadi tuan rumah lokakarya “Pertukaran Pembelajaran Perlindungan dan Rehabilitasi Mangrove dalam Mendukung Country Proposition Indonesia"

SEBALIK.COM, BENGKALIS – Pulau Bengkalis, Provinsi Riau, menjadi tuan rumah lokakarya “Pertukaran Pembelajaran Perlindungan dan Rehabilitasi Mangrove dalam Mendukung Country Proposition Indonesia” yang digelar oleh Global Mangrove Alliance (GMA) Indonesia Chapter pada 3–5 Februari 2026.

Kegiatan ini mempertemukan lebih dari 20 institusi, termasuk perwakilan pemerintah dari tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten, sembilan organisasi konservasi, lima pemerintah desa, serta peserta internasional dari berbagai lembaga mitra.

Pulau Bengkalis dipilih karena keberhasilan konservasi mangrove berbasis masyarakat di Desa Teluk Pambang, yang dikelola oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan didukung GMA. Desa ini berhasil menekan laju degradasi mangrove hingga 96 persen, dari 27 hektare per tahun (2016–2021) menjadi hanya 1 hektare per tahun (2022–2024).

Menurut Apri Susanto Astra, Programme Coordinator Coast and Delta Yayasan Lahan Basah, Pulau Bengkalis memiliki paket lengkap untuk kegiatan konservasi, restorasi, dan rehabilitasi mangrove.

Lokakarya diawali dengan diskusi strategis terkait regulasi, pendanaan, manfaat, dan dampak ekonomi konservasi mangrove berkelanjutan, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Teluk Pambang, tempat komunitas mangrove lokal berbagi pengalaman dengan peserta nasional dan internasional. Acara ini diakhiri dengan pelatihan Global Mangrove Watch (GMW) untuk mengaitkan aksi lapangan dengan target Global Mangrove Alliance.

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, sekitar 3,4 juta hektare dari total 15 juta hektare global, sehingga menjadi prioritas dalam inisiatif internasional “Mangrove Breakthrough”.

Program ini menargetkan konservasi 15 juta hektare mangrove hingga 2030 melalui kolaborasi lintas sektor dan investasi skala besar. Di Indonesia, anggota GMA yang mendukung inisiatif ini antara lain Wetlands International Indonesia, YKAN, dan Konservasi Indonesia.

Benjamin Christ dari Impact by Design dan GMA menekankan pentingnya kerja sama multipihak untuk melestarikan dan memulihkan mangrove. Dengan sinergi ini, Pulau Bengkalis menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan berbasis masyarakat, ekologi, dan kelembagaan dapat berjalan selaras, mendukung konservasi mangrove yang berkelanjutan di tingkat nasional maupun global. (*)

Terkini