Pemkab Siak Tanggung Biaya Perawatan Korban Ambruknya Lantai Dua Tangsi Belanda

Sabtu, 31 Januari 2026 | 20:28:00 WIB
Pemerintah Kabupaten Siak memastikan seluruh biaya perawatan korban ambruknya lantai dua bangunan cagar budaya Tangsi Belanda di Kecamatan Mempura ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah

SEBALIK.COM, SIAK – Pemerintah Kabupaten Siak memastikan seluruh biaya perawatan korban ambruknya lantai dua bangunan cagar budaya Tangsi Belanda di Kecamatan Mempura ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah. Insiden yang terjadi pada Sabtu (31/1/2026) sekitar pukul 09.00 WIB tersebut mengakibatkan 16 pelajar yang tengah mengikuti kegiatan studi tour menjadi korban.

Korban diketahui merupakan rombongan siswa SD IT Baitul Ridho Lubuk Dalam yang saat kejadian berada di lantai dua bangunan bersejarah tersebut. Lantai bangunan dilaporkan runtuh secara mendadak ketika kegiatan penjelasan berlangsung, sehingga para peserta terjatuh dan tertimpa material bangunan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, dari total 16 korban terdampak, sebanyak 10 orang dirujuk ke RSUD Tengku Rafi’an Siak untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara itu, enam korban lainnya menjalani observasi dan telah dipulangkan. Dari keseluruhan korban, 15 orang merupakan anak-anak dan satu orang dewasa yang merupakan guru pendamping.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Siak, Syafrizal, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebutkan bahwa para korban merupakan pelajar yang sedang melakukan kunjungan wisata edukatif ke Tangsi Belanda.

“Benar, saat ini korban yang dirawat di RSUD Tengku Rafi’an Siak berjumlah sembilan orang, dan tiga di antaranya mengalami cedera cukup berat,” ujar Syafrizal kepada awak media melalui sambungan telepon, Sabtu (31/1).

Ia menjelaskan, runtuhnya lantai dua bangunan Tangsi Belanda diduga kuat disebabkan kondisi bangunan yang telah termakan usia. Meski secara visual tampak kokoh, struktur kayu di bagian dalam bangunan diketahui telah mengalami pelapukan akibat rayap.

“Bangunan ini berbahan kayu. Dari luar terlihat masih kuat, namun bagian dalamnya sudah rapuh. Serpihan kayu yang patah saat kejadian menunjukkan kondisi tersebut,” jelasnya.

Tangsi Belanda sendiri merupakan bangunan peninggalan kolonial yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Siak. Syafrizal berharap adanya perhatian serius dari kementerian dan instansi terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan cagar budaya dan objek wisata lainnya.

“Kami berharap dilakukan evaluasi dan perbaikan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang. Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Terkait pembiayaan pengobatan korban, Syafrizal menegaskan seluruh biaya perawatan akan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Siak sebagai bentuk tanggung jawab atas musibah yang terjadi.

“Untuk biaya perawatan para korban, seluruhnya ditanggung oleh Pemkab Siak,” tegasnya. (*)

Terkini